Showing posts with label ARTIKEL ISLAM. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL ISLAM. Show all posts

Tuesday, January 5, 2016

COBAAN HIDUP

Cobaan Hidup
Cobaan hidup itu warna-warni kadang baik, kadang buruk. Tak selamanya yang kita anggap baik itu baik dan tak selamanya yang kita anggap buruk itu buruk. Karena baik dimata kita belum tentu baik dihadapan ALLAH, pun sebaliknya. Karena ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman didalam QS. Al Baqarah ayat 216.

boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Jelas sudah bahwa sedikitpun kita jangan pernah menghakimi suatu peristiwa, kejadian ataupun keadaan dengan menurut kita. Yakinlah bahwa ALLAH tidak akan memberikan sesuatu yang buruk pada kita, jangan pernah sok tau akan peristiwa yang menimpa kita.
Kalau diberi kesenangan, kekayaan, kelapangan belum tentu itu nikmat, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik bisa jadi itu menjadi musibah. Begitupun ketika kita mendapat kesusahan, kesempitan rizki dan lain sebagainya belum tentu itupun buruk untuk kita, boleh jadi itu malah dapat mendekatkan kita kepada ALLAH. Namun memang qodrat manusia seperti itu, mudah tergelincir sewaktu mendapat kesenangan karena dianggapnya sebuah kemuliaan yang dating dari ALLAH, dan ketika mendapat kesusahan maka dianggapnya hinaan untuk dirinya. Sebagaiaman firman ALLAH didalam QS. Al Fajr: 15-16.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[1]
Maka disinilah yang harus kita ketahui bahwa sesungguhnya bukan masalah materi yang melambangkan kenikmatan/ kemuliaan, bukanlah materi yang menjadi patokan kita merasa dihinakan. Maka di QS. AL Fajr di ayat berikutnya ALLAH menggunakan kata “Kalla” yang berarti sekali-kali tidak. Maka jelas sudah, bahwa materi atau apapun yang itu bersifat keduniaan bukanlah sesuatu yang menjadi dasar untuk kita mengklaim bahwa itu sebagai symbol dari ALLAH untuk memuliakan atau menghinakan seseorang.
Ingatlah pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Sesungguhnya ALLAH tidak melihat rupa-rupa kalian juga harta benda kalian, melainkan ALLAH melihat hati-hati kalian juga amal perbuatan kalian.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2564)
Maka yang perlu kita lakukan adalah selalu husnudzon kepada ALLAH akan apapun yang menimpa kita. Entah itu baik ataupun buruk. Tugas kita adalah jangan mudah terlena dan terpedanya ketika mendapat kesenangan dunia, karena dunia hanyalah sementara bahkan dunia ini kalau menurut Yahya bin Muadz adalah tempat bersarngnya setan, maka kita tidak boleh mencuri apaun dari sarang setan ini, karena kalau kita mencuri maka otomatis setan akan mencari kita. Oleh sebab itu jangan main-main dengan dunia, ingatlah akhirat. Dikasih sedikit derajat/pangkat dihadapan orang jangan petantang-petenteng lalu berbuat semena-mena, dikasih banyak uang jangan foya-foya, dikasih kelapangan waktu jangan dibuang sia-sia. Kalau kata Abdullah Gymanstiar, “sebodoh-bodoh diantara manusia adalah manusia yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia, sebodoh-bodooh manusia adalah yang diberi nafas dan nafasnya untuk sia-sia, diberi waktu dan waktu terhambur sia-sia.” Maka janganlah menjadi orang yang bodoh dengan menyia-nyiakan kelapangan, kesempatan dan lain sebagainya. Jangan mudah terkecoh, selalu waspada dan bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH subhanahu wa Ta’ala.
Jika kita diberi kesempitan rizki, kesusahan, janganlah mengeluh karena kalau kata Ir. Soekarno “Keluh adalah tanda kelemahan jiwa”, dan tentu husnudzonlah kepada ALLAH jangan menjadikan kesusahan itu sebagai alasan untuk kita berpaling dan menjauh kepada ALLAH, tapi harusalah itu menjadi cambuk untuk kita semakin mendekatkan diri kepada ALLAH. Namun banyak sekali kita melihat diantara sebagian manusia yang ketika mendapatkan suatu cobaan kesusahan ini, mereka berusaha lari dari maslah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Misalkan bunuh diri, dan parahnya ada yang kemudian banting setir berganti menyembah pohon, menyembah keris, kuburan, menyembah gunung. Yang jelas ini musyrik. Harusnya kita malu, ketika menggadaikan aqidah dengan keduniaan. Iya kalau benar jadi kaya kalau tidak, maka ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.
Maka marilah kita tatap masa depan dengan optimis, hadapi ujian dengan senyuman dan selalu mendekatkan diri kepada ALLAH.




[1] Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Add to Cart More Info

MATINYA MATA HATI



Pemayahan diri dalam mengupayakan perkara yang telah mendapatkan jaminan dari Allah Swt dan penyia-nyiaan perkara yang diperintahkan oleh-Nya adalah merupakan indikasi kebutaan mata hati seorang manusia.
Sisi kehidupan manusia di alam dunia yang mendapat jaminan dari Allah Swt adalah urusan rizqi sebagai media penjaga keberlangsungan hidup. Jaminan ini semata merupakan kemurahan dari Allah pada manusia bukan kewajiban atas-Nya. Sebagaimana difirmankan :

Dan berapa banyak hewan yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri, Allah lah yang memberi rizki padanya dan padamu. dan Ia maha mendengar lagi maha mengetahui.(QS:Al-ankabut 60)

Maksudnya Allah Swt adalah satu-satunya dzat penyuplai segala kebutuhan ragawi seluruh makhluk-Nya termasuk juga manusia, bukan yang lain-Nya atau usaha kita sendiri. Rizki seorang manusia telah ditentukan kadarnya untuk masing-masing pribadi jauh hari sebelum manusia sendiri itu diwujudkan, tepatnya yaitu lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Manusia tidak perlu pusing memikirkan rizqi, karena Allah tidak memerintahkan manusia untuk memayahkan diri dalam mencarinya, manusia tidak perlu menghabiskan seluruh kekuatan untuk mendapatkannya, mencurahkan seluruh perhatian untuk menghasilkannya. Rizqi itu ibarat bayangan yang akan lari bila kita kejar dan berhenti manakala kita tenang. Falsafah yang semestinya kita terapkan adalah rizki itu mencari kita bukan kita yang mencari rizki. Sebagaimana pula ajal yang menghampiri kita bukan kita yang menghampiri ajal.
Meskipun demikian, kita juga sebaiknya tetap berusaha mencarinya. Sebagaimana secara implisit kita dapati suatu perintah anjuran dalam Alqur’an :

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur pada-Nya. (QS: Al-qosos 73)
Pencarian yang diperintahkan di sini tentu sebatas upaya yang wajar dan sekadarnya saja, tidak sampai menghabiskan seluruh kekuatan. Sebagaimana tergambar dalam suatu ungkapan yang konon termaktub dalam kitab Taurot yang diturunkan kepada Nabi Musa As :

Hai anak adam (manusia) gerakkanlah tanganmu, maka rizkimu akan datang karenanya.
Sehingga pekerjaan yang dilakukan dalam rangka mencari rizki ini tidak sampai menjadi indikator padamnya mata hati, karena upaya itu tidak sampai merusak kepasrahan seorang hamba kepada Allah Swt, meski berusaha namun ia tetap berkeyakinan bahwa otoritas yang menentukan berhasil tidaknya usaha yang di lakukan adalah Allah semata. Dan juga usahanya itu tidak akan sampai berimplikasi pada terbengkalainya tugas-tugas penghambaan yang telah dititahkan.
Mata hati yang dalam lughot arab disebut “Bashiroh” adalah sebuah perangkat dalam diri manusia yang berfungsi untuk menganalisa hal-hal yang bersifat ma’nawi. Sebagaimana mata kepala tidak dapat melihat kecuali pada hal-hal yang tampak. Mata hati inilah yang mempunyai pandangan jauh ke depan, mempunyai pengetahuan bahwa akhir cerita yang baik dari segalanya adalah taqwa. Karena itulah yang semestinya dilakukan oleh seorang hamba adalah pemayahan diri dan pengerahan segala daya upaya demi merealisasikan taqwa yang memang benar-benar berkwalitas serta tidak ada lagi alasan untuk menundanya.
Jika Allah Swt menghendaki terbukanya mata hati seorang hamba, maka raga hamba tersebu akan selalu disibukkan dengan aktifitas-aktifitas ibadah dan penghambaan pada-Nya, batinnya akan disibukkan dengan kecintaan kepada-Nya. Ketika kecintaan dalam batin seorang hamba sudah semakin membahana, panghambaannya juga sudah semakin intens, maka mata hatinya akan semakin bertambah ketajamannya. Hingga pada saatnya mata hati itupun dapat mendominasi mata kepalanya, penglihatan dzohirnya larut dalam pandangan mata batinnya, hingga yang terlihat olehnya hanyalah perkara-perkara ma’nawi saja. Kiranya inilah ma’na pernyataan guru dari para guru kita yang majdub (orang yang ditarik oleh Allah untuk menjadi kekasih-Nya dan saking terlena dengan kecintaan kepada Allah hingga ia tak merasakan keberadaan dirinya sendiri ) :

segala yang sirna.
Kupastikan semua yang kutemui berubah-ubah, dan sore ini diriku dalam keadaan senang.
Sebaliknya jika Allah Swt menghendaki untuk menghinakan seorang hamba, maka Allah akan menyibukkan fisiknya dengan melayani makhluk dan menyibukkan bathinnya dengan kecintaan kepada mahluk. Kondisi ini akan berlangsung terus-menerus hingga meredup dan padamlah mata hatinya, sehingga yang berfungsi hanyalah mata kepalanya saja, ia tidak dapat melihat kecuali hanya pada perkara-perkara yang tampak oleh panca indra saja. Hingga tercurahlah segala perhatiannya pada perkara yang telah mendapat jaminan dari Allah Swt yaitu urusan rizki. Ia habiskan seluruh kekuatan dirinya untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Kita hanya bisa meminta perlindungan kepada Allah Swt. Wallohu a’lam.


Add to Cart More Info

SERPIHAN KATA-KATA ISLAMI



" Ya ALLAH, sampaikan salam rinduku kepada .....(nama penuh orang yang kita rindu ) sehingga menjadi kerinduannya... Aminnn "


Maka cintailah dia dengan keikhlasan.

Kerana tentu kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Talib diingini oleh hati.. tetapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi..?



~ Pilihan ALLAH itu yang TERBAIk
“.. boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” ( QS. Al Baqarah: 216 )

” Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga” (Umar Bin Khattab ra)



Allah selalu memberikan senyum dibalik kesedihan. Allah selalu memberikan Harapan dibalik keputus-asaan..

Ingatlah.. Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan.. Allah selalu memberikan Kekuatan dibalik kelemahan..

Kita punya RENCANA. Allah juga punya RENCANA
Akan tetapi sehebat apapun kita merencanakan sesuatu. Tetap rencana Allah adalah sebaik-baiknya rancangan.

Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.

Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .

Ketika kita menginginkan sesuatu yang tak kunjung DIDAPATKAN. Maka Allah meminta kita untuk sabar MENUNGGU.

Sesungguhnya SABAR akan indah jika kita selalu dekat dgn ALLAH InsyaAllah.

Karena hidup ini terlalu singkat dan berharga jika di buang dengan orang yang TIDAK TEPAT (bukan jodoh kita)...

Lebih baik MENUNGGU orang yang benar-benar kita harapkan.. Daripada menghabiskan waktu dengan orang yang tidak tepat..

Cinta bukan tentang bagaimana perasaan itu muncul.. Tapi bagaimana perasaan itu agar tetap utuh...

Cinta bukan tentang jarak yang memisahkan.. Tapi tentang kepercayaan satu sama lain..

CINTA itu seperti menanam sebuah pohon, Jika kita SABAR pohon itu bisa menjadi pohon yang sangat besar dan kuat..

YA RABBANAA. Yg kami inginkan hanyalah kesempurnaan cinta_MU.. Karena hanya begitulah tidak akan ada rasa terluka dan kecewa pada akhirnya..

YA RABBANAA.. Satukan kekurangan kami dalam Ridha_MU.. Agar kekurangan itu dapat melebur menjadi kesempurnaan.

YA RABBANAA.. Satukan kami dalam naungan cinta_MU.. Dan cintakan kami pada kebaikan.. Agar cinta kami dapat menyatu menjadi kebaikan..

Aku tak berharap kesempurnaanmu.. Kerana aku ingin melengkapinya dengan kekuranganku..

Aku tak berharap di pertemukan denganmu.. Tapi aku meminta dipersatukan dalam cinta_NYA..

Jika aku disini menanti, ku harap kau disana menjaga.. Jika aku disini berdo’a, ku harap kau disana setia..

Semoga kasihmu pada_NYA membuatmu mampu bertahan dalam perpisahan yang panjang ini..

Semoga cintamu pada_NYA menjagamu dari angin2 keburukan yang mampu membuatmu lalai akan perintah_NYA.

Untukmu yang jauh disana.. Ku harap kau slalu menjaga hatimu.. Seperti disini aku menjaga hatiku..


 Untukmu yang jauh disana, Berdinding jarak dan waktu, Berbatas ruang diantara kita..

Tanpa pernah merasa kecewa karena dia tidak bisa menjadi sempurna seperti apa yang kamu minta..
Jagalah ia dengan segenap jiwa ragamu.. Dan trimalah ia apa yang ada pada dirinya

Cintailah ia dengan hatimu.. Sayangilah ia dengan penuh ketulusan..

Di saat engkau menyakitinya.. Maka lihatlah saat dia rela meneteskan air matanya untukmu agar engkau selalu bahagia

Disaat engkau ingin mencapakkannya begitu saja Maka ingatlah dia yg slalu brusaha untuk menjadi pelangi ketika awan kelabu menyelimuti dirimu

Disaat engkau ingin mnduakan pasangan hidupmu Maka ingatlah dia yg slalu setia dsampingmu ketika kamu butuh seseorang yg mampu mbuatmu tegar

Cintailah seperti kamu mencintai dirimu sendiri.. Begitu juga sayangilah, orang yang kamu sayangi seperti kamu menyayangi dirimu sendiri

"Sesunguhnya dibalik kesusahan ada kemudahan" "dibalik kesedihan ada kebahagiaan" "Maha suci Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan"

Allah Menjanjikan bahwa semua itu akan INDAH PADA WAKTUNYA.

Menitipkan Sukacita di setiap dukacita Menitipkan Harapan di setiap keraguan

Allah menitipkan kelebihan di setiap kekurangan Menitipkan Kekuatan di setiap kelemahan

Kita merancang, Allah juga merancang.. Tetapi perancangan Allah lebih baik.. 

Saat segalanya terasa "MEMBOSANKAN", namun ALLAH berkata "TERUSLAH MELANGKAH"

Saat AIR MATA harus menetes, namun ALLAH berkata "TERSENYUMLAH"

RENCANA ALLAH itu BAIK Saat hati berkata " INGIN ", namun ALLAH berkata "TUNGGU".

Ya Allah, jika dia memang bukan untukku, berikan aku keikhlasan untuk bisa merelakannya bersama dengan orang lain."

Jika suatu saat nanti kehilangan.. Maka LEPASKANLAH DENGAN PENUH KEIKHLASAN

Cinta yg taakan terkhianati adalah cinta kepada Illahi 

Dan dialah sebenarnya yang masih mempedulikan kita. Yang akan membuat hidupmu berbalut bahagia penuh senyuman

Ketika kita pergi bersembunyi hanyalah untuk ditemukan. Ketika kita berjalan jauh hanyalah untuk melihat siapa yang masih setia mengikuti.

Pilih seorang mampu mengerti pikiranmu disaat engkau terdiam. Yg mampu merasakan kasih sayangmu disaat kemarahanmu.

Terkadang engkau harus berbicara pelan.. Agar engkau tahu siapa yang masih mau mendengarkanmu.
Terkadang engkau harus berlari jauh.. Agar engkau tahu siapa yang akan datang kepadamu.
Add to Cart More Info

Tuesday, December 29, 2015

MENGGAPAI JODOH



Memang perkara jodoh ini tidak bisa dipisahkan dengan impian dan harapan dari seorang anak manusia yang memang diciptakan oleh Tuhannya sebagai makhluk yang berpasang-pasangan dan saling rindu-merindukan, oleh karenanya pantaslah bila kata “menggapai” disematkan dalam judul tulisan ini.

Jodoh selayaknya impian, perlu diperjuangkan agar menjadi sebuah kenyataan. Namun jodoh  adalah impian yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda dari impian-impian yang lain. Bila impian pada umumnya perlu diusahakan secara langsung dan tidak memiliki beda cara memperjuangkannya bagi lelaki dan perempuan, maka cara memperjuangkan jodoh menjadi berbeda bagi laki-laki dan perempuan dan sangat perlu diusahakan secara tidak langsung.

Apa yang dimaksud dengan mengusahakan jodoh dengan cara tidak langsung? yaitu senantiasa memperbaiki kualitas diri, baik dalam hal kualitas keduniawian maupun spiritualitas kita di hadapan Sang Pencipta. Karena jangan harap bisa mendapatkan jodoh yang baik, bila diri sendiri saja belum termasuk ke dalam golongan orang yang baik. Banyak yang menuntut kriteria pasangan idamannya jauh di atas kualitas dirinya sendiri, inilah yang menyebabkan orang merasa “sulit jodoh”, padahal yang mereka alami sebenarnya adalah “sulit introspeksi diri”.

Adapun perbedaan cara memperjuangkan jodoh bagi laki-laki dan perempuan seperti yang saya kemukakan di paragraf awal tadi adalah bahwa si laki-laki berhak memilih calon pasangannya, sedangkan si perempuan berhak menolak bila dirinya merasa tidak sesuai dengan laki-laki yang telah memilihnya sebagai calon pasangan. Rupanya tidak banyak berbeda bukan? karena keduanya masih sangat perlu memperbaiki kualitasnya masing-masing, si lelaki sebaiknya berusaha terus memperbaiki diri untuk meningkatkan peluang ia tidak ditolak setelah memilih perempuan yang sesuai dengan kriterianya, sebaliknya si perempuan juga sebaiknya terus memperbaiki diri dan pengetahuannya untuk meningkatkan peluang bahwa dirinya lah yang kemudian akan dipilih sekaligus memastikan bahwa lelaki yang memilihnya adalah lelaki yang baik bagi diri dan agamanya.

Ah iya, saya lupa memberikan definisi jodoh yang saya maksud dalam tulisan ini. Jodoh dalam pandangan saya adalah sebuah proses yang justru baru dimulai sesaat setelah si laki-laki dan perempuan yang saling mencinta disatukan dalam prosesi akad nikah dan berakhir saat Allah mencabut nyawa atau hilang iman keislamannya. Agar jelas bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan bukanlah termasuk proses berjodoh apalagi bila disebut proses untuk menemukan jodoh.

Jodoh pun sangat jauh kaitannya dengan kekurangan rezeki, karena nyatanya justru jodoh lah yang menyelamatkan rezeki para perjaka dan perawan yang serius menggapai jodohnya melalui jalan yang baik dan penuh keikhlasan di setiap langkah proses pencarian jodohnya.


Lalu seperti apakah jalan yang baik menurut Islam dalam menggapai jodoh, yang sudah terbukti bisa menghadirkan kebahagiaan dalam berkeluarga, sekaligus terbukti sukses menghasilkan generasi penerus yang bermanfaat bagi bangsa, negara, juga agamanya??
Add to Cart More Info

Monday, December 28, 2015

COBAAN HIDUP



Cobaan hidup itu warna-warni kadang baik, kadang buruk. Tak selamanya yang kita anggap baik itu baik dan tak selamanya yang kita anggap buruk itu buruk. Karena baik dimata kita belum tentu baik dihadapan ALLAH, pun sebaliknya. Karena ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman didalam QS. Al Baqarah ayat 216.
 #Ó|¤tãur br& (#qèdtõ3s? $\«øx© uqèdur ׎öyz öNà6©9 ( #Ó|¤tãur br& (#q6Åsè? $\«øx© uqèdur @ŽŸ° öNä3©9 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ óOçFRr&ur Ÿw šcqßJn=÷ès? ÇËÊÏÈ  
boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Jelas sudah bahwa sedikitpun kita jangan pernah menghakimi suatu peristiwa, kejadian ataupun keadaan dengan menurut kita. Yakinlah bahwa ALLAH tidak akan memberikan sesuatu yang buruk pada kita, jangan pernah sok tau akan peristiwa yang menimpa kita.

Kalau diberi kesenangan, kekayaan, kelapangan belum tentu itu nikmat, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik bisa jadi itu menjadi musibah. Begitupun ketika kita mendapat kesusahan, kesempitan rizki dan lain sebagainya belum tentu itupun buruk untuk kita, boleh jadi itu malah dapat mendekatkan kita kepada ALLAH. Namun memang qodrat manusia seperti itu, mudah tergelincir sewaktu mendapat kesenangan karena dianggapnya sebuah kemuliaan yang dating dari ALLAH, dan ketika mendapat kesusahan maka dianggapnya hinaan untuk dirinya. Sebagaiaman firman ALLAH didalam QS. Al Fajr: 15-16
$¨Br'sù ß`»|¡RM}$# #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# ¼çmš/u ¼çmtBtø.r'sù ¼çmyJ¨ètRur ãAqà)uŠsù úÎn1u Ç`tBtø.r& ÇÊÎÈ   !$¨Br&ur #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# uys)sù Ïmøn=tã ¼çms%øÍ ãAqà)uŠsù þÎn1u Ç`oY»ydr& ÇÊÏÈ  
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[1]

Maka disinilah yang harus kita ketahui bahwa sesungguhnya bukan masalah materi yang melambangkan kenikmatan/ kemuliaan, bukanlah materi yang menjadi patokan kita merasa dihinakan. Maka di QS. AL Fajr di ayat berikutnya ALLAH menggunakan kata “Kalla” yang berarti sekali-kali tidak. Maka jelas sudah, bahwa materi atau apapun yang itu bersifat keduniaan bukanlah sesuatu yang menjadi dasar untuk kita mengklaim bahwa itu sebagai symbol dari ALLAH untuk memuliakan atau menghinakan seseorang.

Ingatlah pula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Sesungguhnya ALLAH tidak melihat rupa-rupa kalian juga harta benda kalian, melainkan ALLAH melihat hati-hati kalian juga amal perbuatan kalian.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2564)

Maka yang perlu kita lakukan adalah selalu husnudzon kepada ALLAH akan apapun yang menimpa kita. Entah itu baik ataupun buruk. Tugas kita adalah jangan mudah terlena dan terpedanya ketika mendapat kesenangan dunia, karena dunia hanyalah sementara bahkan dunia ini kalau menurut Yahya bin Muadz adalah tempat bersarngnya setan, maka kita tidak boleh mencuri apaun dari sarang setan ini, karena kalau kita mencuri maka otomatis setan akan mencari kita. Oleh sebab itu jangan main-main dengan dunia, ingatlah akhirat. Dikasih sedikit derajat/pangkat dihadapan orang jangan petantang-petenteng lalu berbuat semena-mena, dikasih banyak uang jangan foya-foya, dikasih kelapangan waktu jangan dibuang sia-sia. Kalau kata Abdullah Gymanstiar, “sebodoh-bodoh diantara manusia adalah manusia yang diberi modal dan modalnya dihamburkan sia-sia, sebodoh-bodooh manusia adalah yang diberi nafas dan nafasnya untuk sia-sia, diberi waktu dan waktu terhambur sia-sia.” Maka janganlah menjadi orang yang bodoh dengan menyia-nyiakan kelapangan, kesempatan dan lain sebagainya. Jangan mudah terkecoh, selalu waspada dan bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH subhanahu wa Ta’ala.

Jika kita diberi kesempitan rizki, kesusahan, janganlah mengeluh karena kalau kata Ir. Soekarno “Keluh adalah tanda kelemahan jiwa”, dan tentu husnudzonlah kepada ALLAH jangan menjadikan kesusahan itu sebagai alasan untuk kita berpaling dan menjauh kepada ALLAH, tapi harusalah itu menjadi cambuk untuk kita semakin mendekatkan diri kepada ALLAH. Namun banyak sekali kita melihat diantara sebagian manusia yang ketika mendapatkan suatu cobaan kesusahan ini, mereka berusaha lari dari maslah dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Misalkan bunuh diri, dan parahnya ada yang kemudian banting setir berganti menyembah pohon, menyembah keris, kuburan, menyembah gunung. Yang jelas ini musyrik. Harusnya kita malu, ketika menggadaikan aqidah dengan keduniaan. Iya kalau benar jadi kaya kalau tidak, maka ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

Maka marilah kita tatap masa depan dengan optimis, hadapi ujian dengan senyuman dan selalu mendekatkan diri kepada ALLAH.


[1] Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Add to Cart More Info